Sunday, September 6, 2015

Abrory A Djabbar Pengacara, Penyair dan Kolektor seni pemrakarsa Tasyakuran 80 tahun Taufiq Ismail





Tasyakuran 80 tahun taufiq Ismail di Gedung Kesenian Jakarta

TASYAKURAN 80 TAHUN TAUFIQ ISMAIL
DIPRAKARSAI BARAKA LAW OFFICE

Tasyakuran 80 tahun Taufiq Ismail
Gedung kesenian jakarta
Agusugih





        Detak kehidupan sastra Indonesia yang sedang berpacu dengan pengaruh pesatnya tekhnologi, terutama media sosial, semakin terasa semakin lambat dalam hal apresiasi terhadap karya sastra para penyair terdahulu. di segi lain media sosial telah memberi warna lain terhadap gaya penulisan yang beragam, terutama dengan adanya tulisan-tulisan status di media sosial yang banyak bergaya puitis, tapi  dalam segi lain, penulisan itu tidak memperhatikan tata bahasa, cara penulisan, dan struktur bahasa yang dipakai.
        dan dalam keadaan yang luar biasa ini, tiba-tiba suatu kantor lembaga hukum yang bernama Baraka Law Office yang di kelola bapak Abrory A Djabbar, mengadakan suatu acara yang jika dilihat sangat jauh hubungannya dengan bidang yang bapak Abrory A Djabbar lakukan dengan kantor Baraka nya tersebut. Bapak Abrory A Djabbar pencetus ide Tasyakuran 80 tahun Taufiq Ismail Yang diadakan secara meriah di Gedung Kesenian Jakarta Apresiasi yang sungguh luar biasa, karena acara tersebut diadakan dengan konsep yang luar biasa, pengisi acara yang luar biasa pula. 
        Acara Tasyakuran 80 th Taufiq Ismail yang diadakan di Gedung kesenian jakarta tersebut itu dimeriahkan dengan musikalisasi puisi oleh artist-artist dari yang senior seperti Titik puspa, Ahmad Albar, Ian Antono, Bimbo, Marusya Nainggolan,Septian Dwicahyo, Ine Febriyanti, Abdullah wong, Neno warisman, Agusugih dll. Serta diadakan pula acara pameran lukisan yang diikuti Agusugih untuk mengapresiasi acara tersebut.
        Pada Acara Tasyakuran ke 80 tahun Taufiq Ismail tersebut juga dihadiri oleh beberapa tamu penting   diantaranya: Prof. Emil Salim, Ajip Rosidi, Rahadi Ramelan, Prof, Erman Radjagukguk, Adnan Pandu Praja (wakil ketua KPK)< Fahmi Idris, Akbar Tanjung, Nano riantiarno, Ratna riantiarno pengamat politik Imam prasojo dan lain-lain

Dan berikut Adalah sekelumit Tulisan tentang Taufiq Ismail yang di unduh dari Wikipedia 
Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di SoloSemarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Semasa kuliah aktif sebagai Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).
Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York1974-1976.
Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang IndonesiaTirani dan BentengTiraniBentengBuku Tamu Musim PerjuanganSajak Ladang JagungKenalkan, Saya HewanPuisi-puisi LangitPrahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkkKetika Kata Ketika WarnaSeulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.
Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat ChrisyeYan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Monday, August 26, 2013