Sajak dan Puisi

Jumawa
Dari celah kabutGerimis berduyun menemuikuMembacakan rundayan lafadzDaun yang terketuk butiran mutiara ituMengangguk angguk mengertiSedangkan aku termanguPucuknya yang prematur pun mengaminkanUsia paruh bayaku malah memenjarakan dalam hijabDari seberang lazuardi
Kuning temaram lembayungSeperti kitab kuning yang ditulis para waliTapi aku buta hurupTitik Ba pun khayalJumawaku larut dalam senja

Cilember 21:30 20 Desember 15


Tempatku
Tempatku bukan disanaGemerlap iyaBagi jasadkuMungkin waktu ituSemuanya kuletakan dihatikuPandangan sekilasJagat raya ditangankuPadahal bukan hanya semuNapsu memeluk ruhaniku
Tempatku bukan disanaWalau masa kecil anaku penuh gelakTak bisa kuberikan banyak sekarangTapi cawan ruhani anakuBisa pelan-pelan aku isiDan dihidupkan dengan himpitan pengingatBahwa ada sesuatu yang tak ternilai
Tempatku ternyata disiniDidalam qolbuRumahMu yang terangDikelilingi para pencintaMuDzikirku berubahTidak menyebut namaMuTetapi menjadi sifatMu, dzatMu, asmaMu, dan af'alMu.Aku melihatPara pencintaMu bercahayaBerkibar dengan kebenaranDan bertolak pinggang dengan kegahahanMuBerbagi dengan rahmaMu
Aku tak mau kembali kesanaAku nyaman disiniBukit yang dulu kudaki dengan anakuTelah menjadi padang bunga matahariAku nyaman disiniBersama para begawanYang menjadi petarungPara sufi yang menjadi pedangMuPara wali yang bernyanyiDan para arifin billah yang mencium pipiku
Aku nyaman disiniTapi tetapLemparkan aku darisiniKeharibaanMu yang suciCepat

Cibubur 12715


Istanaku
Istanaku adalah qolbukuEngkau selalu bertahta didalamnyaSir Mu memabukan
Merajah tiap rongga dengan haqMuMelesat dari sumsumkuKaku dalam ketiadaanYa Rasul kekasihkuEngkau yang menegakanAsror-asror IlahiahEngkau bentangkan kekasihkuDjikir engkau paparkan kaifiatnyaHingga aku tahuEngkau dan Dia adalah kekasihkuAdalah aku

Cilember 22:26..20 Desember 15




Sekejap
Duhai kekasihLintasan qolbuku melejit padaMuTapi hanya sedetikItupun tiba2Bukan karena do'a dan upayakuTapi karunia engkau semataMengapa tidak engkau kekalkan saja
Aku ditahukan engkauAku tidak adaTidak ada tapiTidak ada alasanKarena terbersit kehendakuHilanglah tahukuBahwa aku tidak ada

Cibubur 7 sep 2015



TUHAN(Agus Sugih)
Pagi ini kunikmatiTuhan disebatang rokok dan secangkir kopiNiatnya untuk rehat sejenakTernyata qolbu dan akalku ikut rehat mengingat DiaMelintir berkepanjanganSeumur rokok yang kuhisapAndai dalam waktu yang sama aku mengingat DiaRuhaniku mungkin sedikit terangDalam penghambaanTernyata waktuku lebih banyak menjadi hamba selain-NyaMaksiat hatiku tidak berbahaya bagi-NyaKetaatanku tidak bermanfaat bagi-NyaSemoga alfaku  mendatangkan ridhoDaripada ketaatanku yang mendatangkan rasa amanSecangkir kopi telah tandasSebatang rokok telah menjadi abuSedangkan pemenuhan hak-Mu belum kujalankan
Cibubur, 18-12-2015



Untuk Abrory A Djabbar
Tiap pulangAku selalu membawa sesuatuDari tiap gelakDari bilik kerinduanYang memahat dinding dan tiang
Tiap pulangAku selalu terngiangNada pedih menukikTak terkekang sangkar nadaMenari seperti rumiLepas di jagat notasi
Tiap pulangAku selalu meniruMenulis rinduRindu kita samaTapi pena mu seperti gelombangMengantarkan buih kataMenyeret ribuan pecahan pengalamanmenggulung ulu hatiSedangkan pena kuSering patah tumpul seperti alu
Tiap pulangAku selalu tenggelamMenikmati binar anak istrikuYang menjilati sisa makananYang kuracik dan kuhidangkanDiiringi syair rindumu
Tiap pulangAku ingin segera pulangMenemui DiaYang sama kita rindu
cibubur 14


Puisi untuk anaku
Puisi ini kutulis untuk anakuTapi dia tak faham bacaMelangkah empat jejakMerangkak lebih seringkutulis lagu punLebih sering terlelapJadi ku lafalkan Al fatihahHadiah untukmuMungkin ruhaninya tersenyumTeringat ketika dialam azali.Ditanya.."Qollu bala sahidna"Semoga engkau lebih mengenal Dia
Lebih dari ayahmuAnak-anakNya...amanahNya

Cibubur..11:15..19 des 15



Persoalanku
PersoalankuAdalah pandang memandangDan sangka menyangka
PandangMemandang wujud yg sekilas tampak di lahirMenerbitkan sangka menyangkaBukan mnjadi masalah besarJika tujuanku bukan DiaDzat yg suciSuci dari sangka dan akal mengakali
PersoalankuAdalah pandang memandangDan tetap sangka menyangka
Bagaimana mungkin bisa mnjadi jernihJika af'alnya pun aku tak bisa pandangPada tamu kumal yg mengetuk pintukuPd penagih hutang yg bermuka masamPd gamis dan sorban yg putih bersihPada dasi dan teoriDan pd diriku sendiriPandanganku terhadap wujud.. mandekDan berakhir pd wujud tipuan
PersoalankuSepertinya....
Masih pandang memandangDan sangka menyangka
Perhatianku lebih terpukauPada wujud beserta AllahPdhl tidak ada sesuatu selain diaTidak ada wujud beserta AllahT I d a k....A. D. A
Pandanganku msh menyangkaAkan sampai padanNya
Dengan Do'a,syuhud, dan musahadahkuPdhl itu sangkaan terkejiKarena semuanya sebab karuniaAllah semata
Pandanganku msh menyangkaAku telah beramal sholehPdhl semua amal itu sebab
Allah semataDinisbatkan kpdKuDisebutkan,dikaruniakanAtas namaku.....
Pandanganku masih menyangkaAku telah sholat dan tunai kewajibanHingga berhak beroleh pahala dan surga..Padahal aku hanya wayang yang sujud dan ruku
PersoalankuPandang memandangDan sangka menyangkaAkan berakhirJikaLA ILLAHAAA ILLALLAHHH...Semua akan silauHilanglah alam semestaMembias ke Akal, hati,fikir,khayal,insting,ruh...Yg ada hanyaLA ILLAHAAA ILLALLAHHH...



Kyai
Niatku mengembaraKebalik ceritamu KyaiMembayangkan yang tak nampakMembentangkan nasihatmuDari awal muharamSampai bertemu kembali bulan agung ituTapi nasihatmu itu tiba-tiba menjadi sebarisan gunung yang kokohSulit kupijak tanjakannyaKulingkari terlalu jauhApakah harus kutunggu cahaya esok lagiTapi bisa jadi hati terhenti pada cahaya ituSedangkan kemilaunya perhiasan ilmuSeolah membuatku sampaiPadahal itu sekedar pemberhentian menuju kekasihAtukah aku berteduh lagiKemudian terjebak petangDidekap lawamah berkepanjanganSemakin jauh dari niat yang engkau tancapkan KyaiKyai..Engkau tauKeduanya menjadi dindingHanya dindingPadahal belantara dibarisan gunung belum ku rambahAngan menjebaku lebih awalBagaimana bisa perjalanankuTanpa ditemani pituturmuKyai...Aku masih terpukau oleh cahayaMusim semi dan danau para pecinta membuatku pestaBunga-bunga amalan pasti kuhisap penuhNyala rindu kujadikan tanjuAku masih ingin menari didalam cahayaKyai...Kegelapan membuatku lelapAmaroh adalah alas tidurkuSyahwat adalah selimutkuTidur berkepanjangan kunikmatiBangkai mungkin lebih tepat
Kyai....Barisan gunung,lembah,belantaraBahkan cahaya ituAku mau engkau tuntun merambahnyameniup mataku jika cahaya ilmu menyilaukankuMenjadi damar ketika syahwat membayangi hingga gelap.
Cibubur. 10 11 15


Kyai 2
Denting yang aku mainkanAdalah pituturmu KyaiYang kau wejang tadi malamDalam keteduhan samudera ilmuNur kesabaran diluar bahasa ikhlasKarena tulusmu adalah untuk diriNyaDenting ini tak bisa mewakili apapun darimu7 notasi seperti angin sepoyTak sebanding dengan 7 petala langit dan bumi pengetahuanmu
Denting yang kumainkanAdalah kelembutanmu KyaiYang kuraba dan kurangkaiDari gurat senyumuAlunan yang menghanyutkan udaraMembelokan panasnya apinada terlembutpun menjadi tak fasihBerdenting menghantarnya
Denting yang kumainkan
Adalah pengabdianmu KyaiYang tak menyerahkan hati pada apa dan siapaInsan yang melihat dirinya sendiri melalui TuhannyaAsyik masyuk dengan ke-esaanNya
Denting yang kumainkanAdalah apimu KyaiYang membakar rindu menjadi matahariDenting melengking menjadi patahSemangatmu adalah pedangNyaRidhoNya menjadi hulunyaMenebas urat darah kefasikanLengkungannya menjadi payung si lemahUjungnya akhir dari tujuan mulia
Semua nada telah berdentingTapi aku masih terpakuMenikmati nada ladunimuYang bertebaran dari mutiara jiwaMelarutkan jasadDalam ketidak sadaranku

Cibubur 10 11 15


Jadi anjing
Jadi anjing dulu sebentar, niatnyaTapi malah keasyikanMengais sampah batin terusPadahal mutmainah sering dihantamTapi malah semakin nyaring gonggongannyaEkor napsu bisa ku jepit rapat diantara kemaluankuTapi syahwatku cair di otakuMenguatkan korneakuSeakan tembus pandangMelihat babi babi telanjangPadahal ketelanjanganku ku umbar seperti najis yangg lekat di tujuh lapisan hatiMenyebut namaMu seperti lolongan rinduPadahal aku butuh di akuSebagai pecinta dan perinduAku adalah anjing yang kebablasanMungkin sebentar lagi jadi serigala yang bertauhidMemakan bangkai ilmuSisa sisa dari perdebatanKemudian melolong seolah telah ma'rifatPadahal ni'matnya tauhid telah di lahap Singa Singa tuhanYang berkhalwat di gua kesunyian lawamahAnjing yang berubah jadi srigala itu akuTapi aku adalah engkau juaJadi tidak masalah buatkuJika Engkau ridhaJadi srigala tak masalah
Cibubur 2 nopember 15



Senja Di Selasar

Senja diselasarKulihat ruh mawarku berlarianDiujung lorong,sampai pohon bambu kuning dekat ampi theaterDisitulah pertunjukanMu dimulaiPertunjukan kekasihYang tak mau dimaduSinopsis hidup yg mulai kupahamiKetika melihat bukit disebrang seperti alphabetYang merangkai sebuah kata"Akulah dirimu itu, engkau  hanya ujung ranting, yg didorong ke lembah, yg Aku titipkan pada angin lembah, untuk diajak membumbung, kemudian menjadi Aku, menjadi hilang dalam ahadiyat mahabahKu, dan kelebatan ruh mawarmu, ADALAH AKU, yang melewati kornea matamu kemudian Aku benamkan ke dzikirmu, supaya engkau terus memandang Aku, pemilik setiap ruh, yang berlarian ditarik rindu"
OooohAku mengerti sekarangBetapa Engkau mencintaiku
Wisma dago 22-8-15


Janji

Janji janjiku belum tunaiKepada ibuKepada istriAnak ,dan terutamaPada engkauTapi aku tenang mengingat janjiku pada engkauKarena yang menunaikanDan memberi keterbatasanAdalah Engkau juga
Aku sering berkata dalam sunyiSunyi itu semakin senyapKetika lupa menderakuKetika janji janji baruAku janjikanMereka mencatat dan menungguTapi Engkau hanya tersenyumAku tahuKarena engkau maha mengerti
MungkinSuatu saatAku akan mencatatDan membukukan janji janjikuSiapa tahu buku janjikuLebih tebal dan seribukali lebih banyak dari catatan harian Ajip rosidiDiterjemahkan dalam 40 bahasa
TapiTetapTak mungkin bisa diterjemahkanDalam 1 bahasa
KEJUJURAN
Cibubur 1715



Mencoba membaca

Aku telusuriAlur dari tiap goresanPada wajah pujangga besarDisitu ada sungai yg mengalirkan cinta yg bergeloraBatu dan riam menjadi dzikirDilaluinya dengan indahKutarik garis alisKutemukan ribuan teralisYang memenjarakan takutKu arsir bola matanyaDalam titik hitamnyaKutemukan cahayaKusapu tulang rahangyaBatu karang disanaDalam hitam putih bibirnyaHanya ada iya dan tidak
Cibubur.. Memandang sket Ajip rosidi 16 juni 15



Pertanyaan anaku

Anaku pernah bertanyaApa hakekat ikhlasAku jawabSeperti orang buang hajatTak pernah difikirDiungkit dan dipaparkanDalam pikiranyaSemua bisa melakukannyaSetiap pagi, siang dan malam
Tapi dia tidak mengetahuiBahwa kadang ada yang sembelitBerat melakukannyaAtau bahkan mencretMudah melakukanyaMengaduh kemudian
Ketika aku menggerutuKarena kotoran adiknya bekepotanDia kini betfikirNikmat orang lain selalu menimbulkan masalah bagi orang lain
Ya memang begitulah hakekatnyaLi kulli ni'matin hasuddunDi dalam nikmat selalu ada hasudNyata atau halus
Semoga fikiran sederhanamuMenjadi buahSuatu saat
Cibubur 1715



cahaya
CahayaBukan penerang bagikuBukan spektrum yg bisa aku uraiBisa menarik dan menyudutkanMenggiring kpada ketakjubanHari ini bahkan membawaku terbangDalam dzikir yg dawamShalat yg berwarna dan tertawaMengalahkan napsu dengan senandungTapi bisa meluluhlantahkanTanpa karamahTapi uluran tulusDengan ilmu dan contohMenumpuk benih yakinBukan aninul atau haq'ulTapi menjadi dzat DiaYang rahman
PI...8 - 6 - 15



Daun daun
Waktu ituDaun jadi tandaMuSeperti menebasKetika DzatMu raibDari kesadarankuWalau hanya sedetik berpalingKau lenggokan daunDengan irama anginMeliuk melambaikuMenghaturkan gendingTurun luruhSeluruh af'al MuAdalah aku
cibubur 14



Sangka
Aku belum bisa menjabarkan tandaMu itu..dilihat di dengar sangat jelas, tapi pesan apa,bagaimana,mengapa atau untuk apa, hanya sangkaitulah keterbatasan hamba

cibubur 14



Engkau
Kudapati berkahMu ketika pintu rumah terbukawajah-wajah penuh rindu memburu dan bergelayutmeluruhkan dingin perjalanan subuh ini Kulihat Mereka adalah Engkau
cibubur 15



Peringkat
Subhanallahi walhamdulillah walaillaha ilallah.. Peringkat hanya angka tapi bagi anaku adalah api, membakarbaranya menggarang segala kesulitan yg lalu.
cibubur 14


Perpisahan
Sudah lama aku tak menangisTerakhir ketika bapaku pergiKemudianSedusedan dan air mata ituDiteruskan anakuKetika aku harus memisahkanyaDari ibu yang dia kasihiSeperti aku mengasihi bapaku
cibubur 12


medan perang
Belum mati Gus..terus pandangini hanya pertarungan kecilorang besar dengan medan perang akbar.. Akan mentertawakanmukarena lalai melihat siapa dan untuk apa
cibubur 13


Semesta
Dia yang maha kayaTidak butuh semesta ciptaanyaJika engkau merasaDia adalah engkauManunggaling kaulo lan gustiMengkapa engkau membutuhkan berkah semesta
cibubur 14


Gentar
Gentar adalah rasaMuRindu adalah rasaMu yg lainAku memilih gentar kehilangan rindu padaMu
cibubur 12


Tajrid
DahuluAku melihat belalang, dan cicakKujadikan guru maqom tajrid.Hari ini aku bertemu dan ditemani 2 ahlinya dari bangsaku.Andai aku berbalik terjebak di maqom asbabBetapa sedihnya ibukuilhampun tersekat sekat hanya menjadi wacana.Nur hakikat ahdiyat dariMu nihil. Bersandar pada amal membuatku mati. Aku hanya ingin menyerah padamu dengan cara yang benar. MemandangMu dari yg dzohir dan bathin. Yang dzohir itu ternyata nyata dihadapanku.
Pabelan 7 juli 15


AKU
Sir di lauhil mahfud telah terurai. Ruh mulai membaca akal menyimpan data rasa membuncahkan buih nikmat bergelora karena pasang.Digiring padaMu olehMu untukMuHanya wahyu yg bisa mengabarkanseperti alam azali yang mulai terurai aku semakin mengenal AkuSetiap perbendaharaan yg membentang mulai kutarik mengerucut menuju AkuMuAtsar yg kukira kemarin adalah hitam keningku ternyata adalah ketika aku menjadi AKUhilangSehingga penyerahan telah menjadi penerimaan Derita menjadi asmaraSangka telah menjadi harap Itulah atsarMu yg memercik diruhMu jugaBagaimana aku mengaku,jika dzikir ini milikMu? aku tiada hanya Engkau yg memuji EngkauTapi karena Engkau rahim, amal dan nikmat itu kau nisbatkan untukkuSehingga aku mabuk menikmati perjalanan..
Cibubur 5 juni 2015





No comments:

Post a Comment